Blog Ini Merupakan Sarana Informasi Desa Lergunong

Saturday, July 27, 2019

Dusun Palenggian


Dusun Palenggian merupakan salah satu dusun yang nama dusunnya diambil dari nama “buju’” yang terdapat di dusun tersebut. Buju’ tersebut berlokasi di bawa pohon asam di timur masjid. Menurut informasi dari ketua dusun Palenggian sendiri yakni bapak Sawali (73 tahun), buju’ yang ada di dusun tersebut bukan berupa makam melainkan persinggahan (palenggian).

Pada jaman dulu ada 9 orang yang membakar ubi, ubi tersebut aslinya adalah batu kemudian dari 9 orang tersebut terdapat 1 orang yang membakar ubi tersebut tapi tetap menjadi batu sedangkan 8 orang lainnya menjadi ubi. Suatu ketika ada seorang santri yang kehausan kemudian ia menancapkan pedang di batu tersebut dan keluarlah air dari batu tersebut. Hingga sekarang pedang tersebut masih ada dan dari tempat tancapan pedang tersebut dibuatlah sumber/ sumur. Dan asal nama palenggian tersebut karena tempat tersebut menjadi tempat persinggahan 9 orang tadi. Masyarakat di dusun ini rutin melakukan “burdȃh” dan yasinan yang biasa dilaksanakan oleh laki-laki dan bertempat di masjid yang ada di dusun. “Burdȃh” dalam bahasa Indonesia disebut sholawatan. Sedangkan para perempuannya atau para ibu-ibu biasanya melakukan kegiatan muslimatan setiap jum’at sore. Kegiatan keagamaan tersebut rutin dilaksanakan setiap minggu.

Di dusun Palenggian sendiri terdapat fasilitas fasilitas penunjang pendidikan diantaranya TK Alhasimi Assa’adah dan Madrasah Dini Assa’adah, Tenaga pengajar di sekolah tersebut berasal dari dalam dusun sendiri atau yang biasa disebut dengan guru tugas. Kepala sekolahnya bernama ustad Ta’i dan pembinanya bernama abah H. Hasyim (pemilik tanah sekolah). Mayoritas pekerjaan masyarakat di dusun Palenggian adalah sebagai petani. Tanaman yang ditanam dapat berupa padi, jagung maupun kacang hijau. Hasil pertanian tersebut dikonsumsi sendiri oleh masyarakat dan jika masih ada sisa atau berlebih maka dijual ke pasar.

Hasil pertanian yang paling menguntungkan di dusun ini adalah padi, namun karena musim kemarau sehingga banyak sumber mata air mengering dan banyaknya padi yang diserang hama wereng menyebabkan para petani banyak mengalami kerugian. Selain bertani masyarakat juga memilih untuk berternak, seperti ternak sapi. Tak sedikit pula masyarakat yang memilih merantau keluar kota bahkan keluar negeri seperti ke Malaysia, Korea dan Arab. Mayoritas yang merantau adalah para pemuda dusun 12 Palenggian sedangkan yang bertani dan berternak adalah para orang tua (orang sepuh). Ada pula yang mempunyai usaha menjahit, adanya tukang jahit ini merupakan pertama yang ada di desa Lergunong sehingga cukup membantu masyarakat sekitar yang ingin menjahit agar tidak terlalu jauh ke desa tetangga.

0 komentar:

Post a Comment