Blog Ini Merupakan Sarana Informasi Desa Lergunong

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Saturday, July 27, 2019

The Night of Islamic Creation


The Night of Islamic Creation merupakan rangkaian penutupan kegiatan KKN oleh kelompok KKN 51 yang dilaksanakan pada tanggal 26 juli 2019 tepatnya hari Jumat pukul 19.00 WIB sampai 22.30 WIB dengan tema “Menggali Potensi Minat dan Bakat dalam Seni dan Dakwah Islami”. Kegiatan ini bertempat di halaman SDN Lergunong 1. Kegiatan terdiri dari penampilan seni islami oleh siswa-siswi dari berbagai instansi yang ada di Desa Lergunong kemudian dilanjutkan pengajian atau ceramah dari KH. Abdur Rofiq. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa Lergunong (bapak Toha), para perangkat desa, alim ulama’ serta masyarakat Desa Lergunong yang sangat antusias mengikuti jalannya acara. Adapun tujuan diadakannya kegiatan “The Night of Islamic Creation” ini adalah untuk mempererat tali silaturahmi kepada seluruh masyarakat di Desa Lergunong serta untuk menutup rangkaian kegiatan atau acara dari kelompok KKN 51.





Dusun Palenggian


Dusun Palenggian merupakan salah satu dusun yang nama dusunnya diambil dari nama “buju’” yang terdapat di dusun tersebut. Buju’ tersebut berlokasi di bawa pohon asam di timur masjid. Menurut informasi dari ketua dusun Palenggian sendiri yakni bapak Sawali (73 tahun), buju’ yang ada di dusun tersebut bukan berupa makam melainkan persinggahan (palenggian).

Pada jaman dulu ada 9 orang yang membakar ubi, ubi tersebut aslinya adalah batu kemudian dari 9 orang tersebut terdapat 1 orang yang membakar ubi tersebut tapi tetap menjadi batu sedangkan 8 orang lainnya menjadi ubi. Suatu ketika ada seorang santri yang kehausan kemudian ia menancapkan pedang di batu tersebut dan keluarlah air dari batu tersebut. Hingga sekarang pedang tersebut masih ada dan dari tempat tancapan pedang tersebut dibuatlah sumber/ sumur. Dan asal nama palenggian tersebut karena tempat tersebut menjadi tempat persinggahan 9 orang tadi. Masyarakat di dusun ini rutin melakukan “burdȃh” dan yasinan yang biasa dilaksanakan oleh laki-laki dan bertempat di masjid yang ada di dusun. “Burdȃh” dalam bahasa Indonesia disebut sholawatan. Sedangkan para perempuannya atau para ibu-ibu biasanya melakukan kegiatan muslimatan setiap jum’at sore. Kegiatan keagamaan tersebut rutin dilaksanakan setiap minggu.

Di dusun Palenggian sendiri terdapat fasilitas fasilitas penunjang pendidikan diantaranya TK Alhasimi Assa’adah dan Madrasah Dini Assa’adah, Tenaga pengajar di sekolah tersebut berasal dari dalam dusun sendiri atau yang biasa disebut dengan guru tugas. Kepala sekolahnya bernama ustad Ta’i dan pembinanya bernama abah H. Hasyim (pemilik tanah sekolah). Mayoritas pekerjaan masyarakat di dusun Palenggian adalah sebagai petani. Tanaman yang ditanam dapat berupa padi, jagung maupun kacang hijau. Hasil pertanian tersebut dikonsumsi sendiri oleh masyarakat dan jika masih ada sisa atau berlebih maka dijual ke pasar.

Hasil pertanian yang paling menguntungkan di dusun ini adalah padi, namun karena musim kemarau sehingga banyak sumber mata air mengering dan banyaknya padi yang diserang hama wereng menyebabkan para petani banyak mengalami kerugian. Selain bertani masyarakat juga memilih untuk berternak, seperti ternak sapi. Tak sedikit pula masyarakat yang memilih merantau keluar kota bahkan keluar negeri seperti ke Malaysia, Korea dan Arab. Mayoritas yang merantau adalah para pemuda dusun 12 Palenggian sedangkan yang bertani dan berternak adalah para orang tua (orang sepuh). Ada pula yang mempunyai usaha menjahit, adanya tukang jahit ini merupakan pertama yang ada di desa Lergunong sehingga cukup membantu masyarakat sekitar yang ingin menjahit agar tidak terlalu jauh ke desa tetangga.

Dusun Bikondang

Foto bersama pak supardi
Asal dari nama dusun Bikondang diambil dari nama buju’ yang ada di dusun tersebut yaitu Buju’ Bikondang (wawancara dengan bapak Supardi selaku kepala dusun Bikondang). Di dusun Bikondang ini terdapat buju’ Bikondang dimana masyarakat sekitar rutin melakukan ritual “nyonson” atau “arebbe” setiap malam jum’at di dusun tersebut. Berdasarkan cerita dari Kepala Desa Lergunong dan tokoh-tokoh masyarakat di dusun Bikondang ini terdapat kepercayaan jika ada yang mengambil sesuatu tanpa meminta kepada pemiliknya maka yang mengambil sesuatu tersebut akan sial atau tertimpa musibah, meskipun hanya kerikil atau sampah yang ada dijalan raya wajib hukumnya pamit/ meminta 10 dulu kepada pemiliknya.

Pada dusun Bikondang ini terdapat fasilitas penunjang pendidikan diantaranya SDN 1 Lergunong, SMP serta Pondok Pesantren Ashsholihiy Tanwirul Afkar dimana di dalamnya terdapat sekolah TK, madrasah dan SMP. Mayoritas masyarakat di dusun Bikondang bekerja sebagai petani padi dan jagung, peternak sapi dan merantau. Hasil tani yang didapat kebanyakan di konsumsi pribadi. Di dusun ini juga terdapat kelompok tani sehingga jika ada bantuan dari pemerintah mempermudah dalam pendistribusiannya seperti bantuan pupuk dan lain-lain (wawancara dengan ketua dusun bapak Supardi). Di dusun Bikondang ini juga ada home industry, yaitu industry kerupuk nasi.

Dusun Terbuh


  Dusun Terbuh merupakan salah satu dusun yang ada di Desa Lergunong. Asal muasal dusun ini berasal dari adanya sumur tantoh atau dalam bahasa Indonesia disebut sumur tua. Sumur tua tersebut sampai sekarang masih bisa digunakan oleh masyarakat karena masih mengeluarkan sumber mata air. Tempat atau lokasi sumur tua tersebut yakni ke selatan masjid yang ada di dusun. Masyarakat dusun Terbuh merupakan masyarakat yang islami, hal tersebut ditandai dengan rutinnya diadakan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti diadakannya pengajian, sholawatan (burdȃh) dan yasinan setiap minggunya.
  Pada dusun ini terdapat beberapa fasilitas pendidikan diantaranya adanya TK Nurul Imam, Madrasah Islam Nurul Imam, SMP Islam Nurul Imam dan SDN Lergunong 2. Mayoritas masyarakat di dusun Terbuh bekerja sebagai petani, peternak, tukang bangunan ataupun merantau. Hasil tani yang didapat di konsumsi sendiri atau pribadi. Di dusun ini tidak terdapat kelompok tani namun para petani tetap mendapat bantuan seperti bantuan pupuk dan bibit jika ada bantuan dari pemerintah.

Dusun Onjen

Sejarah dari dusun Onjen menurut informasi yang didapat dari bapak Usman (49 tahun) selaku ketua dusun Onjen, diceritakan bahwa pada jaman dulu di dusun Onjen adalah hutan yang luas atau besar dan terdapat jalan setapak yang digunakan orang-orang untuk berjalan dan melewati daerah tersebut. konon katanya setiap ada orang atau warga yang melewati jalan tersebut di malam hari sering ada makhluk gaib atau hantu yang melayang-layang di udara dan mengganggu warga yang melewatinya. Melayang dalam bahasa Madura setempat berarti “aonjen” jadilah nama dusun tersebut diberi nama dusun Onjen. Dusun Onjen ini berada di bagian timur desa Lergunong dimana berbatasan langsung dengan desa tetangga seperti sebelah timur ada desa Kombangan, sebelah selatan ada desa Kampak dan sebelah utara ada desa Kalapayan. Masyarakat di dusun Onjen ini mempunyai kegiatan rutinan yang dilakukan yaitu pada hari kamis atau malam jumat masyarakat dusun Onjen rutin melaksanakan yasinan dan pada hari senin atau malam selasa rutin diadakan Diba’ atau shalawatan (wawancara dengan bapak Usman selaku kepala dusun Onjen). Di dusun Onjen sendiri belum tersedia fasilitas pendidikan seperti sekolah.

Masyarakat dusun Onjen menyekolahkan anak-anak mereka ke desa tetangga. Mayoritas masyarakat disini menjadi petani. Adapun tanaman yang ditanam adalah padi dan jagung. Selain menjadi petani masyarakat dusun Onjen juga ada yang berternak dan merantau ke luar kota atau bahkan ke luar negeri. Adapula yang bekerja menjadi tukang bangunan di desa-desa tetangga maupun di desa Lergunong sendiri.

Sarana dan Prasarana Desa Lergunong

KEPENDUDUKAN DAN KETENAGAKERJAAN 

A. Kependudukan 
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan bapak Dura’i selaku Carek di Desa Lergunong, jumlah penduduk di Desa Lergunong yang tercatat secara administrasi berjumlah kurang lebih 4.000 jiwa. Menurut informasi yang diberikan pemerintahan desa mengalami kesulitan dalam menghitung jumlah penduduk dikarenakan banyaknya penduduk yang keluar masuk desa, seperti keperluan pindah tempat atau keperluan menikah.

B. Ketenagakerjaan
Masyarakat Desa Lergunong mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. Tanaman yang sering ditanam oleh masyarakat setempat adalah padi dan jagung. Namun ketika musim kemarau tiba, para petani mengalami kesulitan dalam bercocok tanam dan mengalami gagal panen karena kurangnya pasokan air. Selain menjadi petani sebagian masyarakat Desa Lergunong juga ada yang berternak, tukang bangunan, usaha rumahan dan merantau.

PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN HIDUP
Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau hunian yang dilengkapi dengan prasarana guna menunjang kesejahteraan penghuni di dalamnya. Secara umum, perumahan dan lingkungan di Desa Lergunong cukup baik. Mayoritas rumah-rumah di Desa Lergunong dilengkapi dengan mushollah di sebelah rumahnya untuk menunjang kegiatan beribadah mereka. Selain itu tersedianya fasilitas umum di desa juga akan menunjang kegiatan masyarakat di desa. Penyediaan sarana dan prasarana yang ada di Desa Lergunong ini merupakan upaya pemerintah dalam rangka meningkatkan peran, fungsi serta tatanan kehidupan masyarakat desa. Adapun fasilitas yang tersedia di Desa Lergunong yaitu :

Keagamaan 
Masjid 4 unit 
Musholla Hampir tiap rumah 
Pemakaman 4 lahan pemakaman umum & puluhan lahan pribadi

Pendidikan
TK 4 unit 
SD 2 unit 
Madrasah 4 unit
SMP 2 unit
Pondok Pesantren 3 unit
Kesehatan Poskesdes 1 unit
Kelembagaan Balai Desa 1 unit
Pasar 1 unit

ANGKUTAN, KOMUNIKASI DAN INFORMASI
A. Angkutan 
Jenis angkutan atau transportasi yang sering dipakai oleh masyrakat di Desa Lergunong adalah sepeda motor, mobil, pick up, dan truk. Desa Lergunong jauh dari kota dan jalan raya yang biasa digunakan jalur perlintasan angkutan umum, sehingga di desa ini tidak terdapat angkutan umum.
B. Komunikasi dan Informasi 
Sarana komunikasi dan informasi di Desa Lergunong ini cukup baik. Dilihat dari adanya televisi hampir disetiap rumah memudahkan masyarakat menerima informasi terbaru sehingga tidak ketinggalan berita. Untuk alat komunikasi mayoritas masyarakat di Desa Lergunong ini sudah memakai smartphone baik yang muda sampai yang tua hal tersebut memudahkan mereka dalam berkomunikasi dan mencari informasi. Dengan adanya tower di Desa Lergunong juga meningkatkan kualitas jaringan smarphone.

Sejarah Desa Lergunong


Desa Lergunong merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan Klampis, kabupaten Bangkalan. Desa yang terletak dipinggir daerah perbukitan ini memiliki pesona alam yang masih sangat asri. Desa Lergunong memiliki arti yang berasal dari bahasa Jawa yaitu kata “ler” yang berarti pinggir dan kata “gunong” yang berarti gunung, sehingga nama desa ini memliki arti yaitu desa yang berada di pinggir gunung walaupun sebenarnya desa ini merupakan suatu perbukitan, namun masyarakat di desa ini menyebutnya gunung. Nama Desa Lergunong ini diberikan oleh sesepuh atau orang terdahulu, nama ini juga menyesuaikan dengan tempat atau letak dari desa ini sendiri. Pada zaman dahulu sebelum menjadi desa Lergunong, desa ini dijadikan sebagai tempat untuk bertapa karena suasananya yang sunyi dan tenang sehingga banyak pertapa yang datang ke desa ini. Salah satu pertapa yang terkenal adalah Sunan Bikondang.

Pertapaan yang dilakukan di desa Lergunong oleh para pertapa bertujuan untuk mendapatkan ketenangan jiwa di dunia dan kesaktian maka dari itu rata-rata pertapa pada zaman dahulu memiliki kesaktian yang luar biasa. Awal dari pertapaan itulah yang membuat daerah Lergunong lambat laun menjadi suatu tempat permukiman dan menjadi sebuah desa. 5 Hingga saat ini Desa Lergunong menyimpan sebuah keunikan dan kemistikan. Menurut cerita dari bapak kepala desa Lergunong bahwa ada daerah atau tempat di desa Lergunong yang terkenal keramat yakni terletak di dusun Bikondang.

Hal tersebut dikarenakan di dusun tersebut terdapat makam “Buyut Bikondang” atau biasa disebut dengan “Buju”. Dimana di dusun ini terdapat kepercayaan jika ada yang mengambil sesuatu tanpa meminta izin kepada pemiliknya maka orang yang mengambil akan mendapat sial atau tertimpa musibah. Meskipun yang diambil hanya kerikil, ranting, daun atau sampah sekalipun yang ada di pinggir jalan, wajib hukumnya pamit atau meminta izin terlebih dahulu kepada pemiliknya.

Menurut cerita yang beredar bahwa dahulu pernah ada seseorang dari dusun lain memindahkan batu yang ada di tengah jalan tanpa seizin warga dusun Bikondang, setelahnya orang tersebut menjadi gila sampai saat ini. Tidak hanya itu saja, pernah ada seseorang yang mengambil pelepah daun pisang untuk dijadikan sabuk, namun tak berselang lama perut orang tersebut langsung membuncit. Masih banyak lagi kejadian-kejadian mistis yang pernah terjadi di Desa Lergunong berkaitan dengan kepercayaan tersebut.